2.14.2016

Surat Buat Bapak

Assalamualaikum, yang terkasih.
Bapak masih suka baca blogku? Kata Bapak kalo baca dari hp kurang nyaman, baca dari laptop bikin males. Semoga ada rejeki biar bisa baca-baca berita dari tablet ya Pak. Amiin
Sebenarnya, aku bukan anak yang bisa bilang "Aku sayang Bapak" langsung dihadapan Bapak. Aku terlalu malu, sungguh. Beruntungnya ada blog yang bisa aku tulis apa saja dan kalau ada waktu senggang, Bapak bisa baca kapanpun. Terima kasih telah mengenalkanku pada internet, memanggil guru private yang didatangkan ke rumah dan memaksaku belajar komputer. Memang aku jarang bercerita atau sekedar curhat dan menyita banyak waktumu, tapi aku ingin memelukmu dan bilang "aku sayang Bapak"
Dulunya aku pemalu, tidak banyak cakap dan lebih banyak acuh pada sekitar. Dan terima kasih lagi, sering telat menjemputku selepas bel pulang sekolah terpaksa membuatku membuka obrolan dengan anak lain seusiaku sampai seusiamu. Ternyata tidak terlalu buruk. Di atas motor, sering sekali kau tanyakan "Main sama siapa tadi? Temanmu yang kemarin sudah berhenti mengusilimu?". Kutahu kau senang saat mendengar aku menyebut nama orang baru, tersirat dari gurat senyum bibirmu yang kulihat dari kaca spion. Kupeluk dirimu erat. Sekarang, aku suka melakukan hal baru dan
bonus dapat teman.
Untuk beberapa hal aku bisa disebut penakut, dulunya. Takut belajar sepeda sendiri, yang berujung bekas dua jahitan masih terlihat rapi di pipi kananku. Dan setelah itu aku boleh bermanja denganmu dan minta diantar sampai musholla dengan digendong, "Lia sakit gigi, Pak?", ustadzah yang melihat kain kasa dan plester menempel di pipi kananku. Terima kasih Pak, sekarang aku bisa bonceng Bapak naik sepeda. Waktu itu, Bapak terlihat kesal melihatku main air di kolam anak-anak, padahal Bapak sudah berulang kali meneriaki untuk mencoba masuk di kolam khusus anak SD. Digendong dan ingin dilepaskannya aku di kolam untuk orang dewasa, Bapak lupa aku masih anak kelas 3 SD. Aku takut kedalaman dan air. Menangis minta diangkat dan tetap memegang erat kedua tangan Bapak. Tega, Bapak melepaskan tanganku "Kakinya gerakin, kayak kamu naik sepeda". Tak peduli, aku tetap menangis dan tanpa sadar aku menggerakkan kakiku dan tidak tenggelam. Dan kulihat Bapak tersenyum di kejauhan. Sekarang aku tahu, takut hanya membuat kita gagal untuk melakukan suatu hal.
Kita memang jarang berdebat, yang benar saja, bercerita denganmu pun aku jarang. Aku mendapat soal latihan matematika yang berbahasa inggris untuk persiapan lomba. Aku menanyakan padamu untuk memastikan pemahamanku. Nihil, kita berbeda pendapat. Kakak mengecek kamus dan menit selanjutnya mengiyakan pendapat Bapak. Aku tetap tidak mau menerima, salah dan tetap saja. "Di kamus begini, kok masih ngotot? Kalo gamau disalahin kenapa nanya orang lain?", buku panduan yang sedang aku coret-coret diambilnya dengan kasar dan dibanting. Perang dingin sampai waktu makan malam di meja makan. Ibu sampai pusing, "Tadi ibu cicipin masakannya enak, kok sekarang hambar ya? Bapak sama Lia baikan dong". Tetap, Bapak dan aku saling diam sampai Ibu menyuruhku meminta maaf pada Bapak sebelum beliau geram. "Pak, aku salah....",
"Maafin Bapak yaa nak". Tidurku jadi makin hangat karena sebelumnya ada adegan kami bertiga pelukan mirip teletubbies. Sekarang aku mengerti, kadang kita harus mendengarkan untuk bisa didengar.

Bapak tidak seperti kebanyakan orang tua lain yang suka memuji anak sendiri di depan teman-temannya. "Lia kalo disuruh belajar ini malesnya minta ampun", saat kuhidangkan teh untuk beberapa teman kerjanya di ruang tamu. Apa kurang peringkat 3 besar di kelas buat Bapak untuk sekedar memujiku meskipun tidak di depan orang lain. Pernah, aku mengikuti loma cerdas cermat matematika dan waktu itu aku yang memimpin nilai. Kudengar ada yang bertanya dari belakng mejaku "Anak siapa ini?". Lantas suara Bapak yang paling aku kenal sedang duduk di barisan meja anak didiknya kudengar "Kurang tahu Pak, ndak ada pembinanya dari tadi pagi". Kuhela nafas dan berujar dalam hati, "Aku harus menang biar Bapak bisa kenalin aku di depan teman-temannya". Sikap Bapak yang seperti itu membuatku tak langsung puas dengan apa yang aku peroleh. "Bapak ndak mau ngajarin kamu cukup puas, itu bisa bikin kamu sombong di depan orang lain", kuusap air mataku dan senyumku siap menyambut hari esok. Sekarang aku mengerti, mengapa orang cepat puas dengan apa yang ia dapatkan dan lupa caranya bersyukur.
Menjelang UAS ganjil Kelas 3 SMP, Bapak sakit dan harus opname selama seminggu. Kelebihan kelenjar getah bening, disebutnya. Aku harus pintar-pintar membagi waktuku. Selepas subuh, kusiapkan sarapan untuk Ibu dan Indah yang selanjutnya kuantar ke sekolah . Kujemput Mbah untuk sekedar menemani Ibu di rumah dan langsung melaju menuju sekolah. Sepulang sekolah, aku langsung menuju Rumah Sakit berganti shift menjaga Bapak dengan Kakak. Anak 14tahun belum punya SIM sudah bolak-balik naik motor dari kampung ke kota. Jarang mengeluh, karena memang tidak boleh. Ada banyak hal yang menguatkanku, termasuk "Bapak bangga sama kamu" yang mengalahkan rasa takut kehilangan terbesarku. Sekarang aku mengerti, setiap hamba tidak akan mendapatkan ujian jika ia tidak sanggup menjalaninya.
Mimpi buruk yang sama sekali tak pernah aku harapkan terjadi. Belahan jiwa Bapak pergi selama-lamanya. Ibu, yang ba'da maghrib masih tersenyum saat kusuapkan teh, meninggalkanku dan seisi rumah selama-lamanya tepat pukul 23.15. Ini mimpi buruk, tolong siapapun bangunkan aku. Bapak menangkapku, memelukku lebih erat dari biasanya "Kamu anak yang kuat, Bapak tau itu. Yuk, buat Ibu senyum liat kita dari atas sana". Hari berganti, dan peran Bapak juga makin bertambah. Bukannya membantu meringankan beban pikiran Bapak, aku malah jarang mengobrol dengan beliau. Dan Bapak harus putar otak bagaimana caranya tetap mengetahui kehidupanku tanpa langsung merusak moodku. Terima kasih, Bapak selalu punya cara. Sekarang aku mengerti, kehilangan tak cukup bisa membuat kita putus asa.
Bapak ingat tidak sempat tidak mengenaliku selama hampir sebulan? Bapak ingat tidak, Bapak punya janji mengajakku pergi malam mingguan sepulang Bapak dari masjid? Bapak ingat tidak menyuruhku lebih cepat pulang bimbel karena Bapak akan mengajakku menjenguk temanmu di Rumah Sakit? Bapak ingat tidak aku sempat tidak pulang ke rumah beberapa hari dan memilih tinggal di rumah Tante? Bapak ingat tidak, mengemasi semua barang di kamarku dan menyuruhku berhenti sekolah? Bapak ingat tidak dengan anak perempuan yang melihatku sinis saat aku memanggilmu di depan gerbang rumahnya? Bapak ingat tidak, Bapak tak mau makan masakan Kakak? Padahal itu aku yang memasaknya. Bapak ingat tidak dengan wanita yang tak ingin sekalipun aku melihatnya saat kita mengantre di bank? Bapak ingat tidak aku bercerita masalah di sekolah dan Bapak tidak mengacuhkanku? Bapak ingat tidak Bapak lupa memberiku uang saku? Yang Bapak ingat Bapak tak merasa bersalah dan tidak ada hal yang terjadi sebulan belakangan. Bapak mengingatku lagi, menyetrika seragamku lagi, menyukai teh hangat buatanku lagi. Semoga pelukanku membuat hal ini tidak terjadi lagi. Ini ajaib, aku memang punya kekuatan magic Pak. Sekarang aku mengerti, banyak hal kecil yang bisa menjadi pelajaran berharga untuk seseorang.
Bapak terlalu berharga untuk aku tukar dengan apapun. Bagaimana caranya untuk menemukanmu di versi berbeda? Aku tahu, aku cukup menjadi diriku dengan tambahan semua yang Bapak berikan di dalamnya. Dengan begitu, kelak kan kutemukan dirimu dalam sosok yang lebih muda. Sekarang aku mengerti, aku cukup kuat melewati semua ini denganmu di setiap detailnya.
Aku menyayangimu, Cinta Pertamaku.
Semoga kamu (siapapun yang kelak bertemu Bapak lebih dulu) membacanya.

No comments:

Post a Comment